Menyajikan Kembali Pangan Lokal di Meja Makan Kita
Saya baru saja menyantap hidangan makan malam berupa makanan khas Indonesia yaitu temped an tahu bacam. Suasana menghangat seiring dengan riuhnya obrolan-obrolan kecil bersama ayah dan ibu di meja makan malam ini.
Sekonyong-konyong terlintas dipikiran saya tentang bagaimana makanan-makanan ini bisa hadir di meja makan. Bagaimana kedelai-kedelai ditanam, bagaimana para petani memanen, dan bagaimana kedelai ini difermentasi hingga menjadi tempe dan tahu. Saya kemudian ‘surfing’ di dunia maya tentang pasokan kedelai di Indonesia. Jawaban mencengangkan datang dari www.rakyatmerdekaonline.com pada 12 Februari 2011 menyatakan sekitar 70 persen pasokan kedelai Indonesia diperolah melalui impor yang sebagian besar dari Amerika Serikat. Kemudian ‘surfing’ saya lanjutkan ke beberapa pangan lain seperti beras, susu, anak ayam, garam, gandum, dan margarine hampir semuanya menunjukkan angka lebih dari 50 persen mendatangkan dari luar negeri. saya semakin miris ketika dengan sigap jari-jemari membuka halaman demi halaman majalah Respect yang saya dapat dari sebuah acara camp minggu lalu. Disitu tertulis
“Saat manusia membicarakan berbagai teknologi canggih yang aplikasinya kebanyakan untuk hiburan, sebagian penduduk dunia masih tidur dengan perut lapar.”
Dan saya termasuk kedalam manusia tersebut.
Begitu jahatnya saya menyadari bahwa selama ini saya makan diatas penderitaan orang lain. Contoh saja ketika bicara soal sarapan. Kala SMA dulu saya termasuk penyuka roti tawar. Ya… roti tawar yang biasa saya olesi dengan margarine dan ditabur meses coklat dan selembar keju. Soroti saja margarinnya, ketika bicara soal margarine tentu kita akan bicara mengenai sawit. Perkebunan sawit yang maha luas didaerah Sumatra sana membumbung di angan-angan kita. Tapi apakah kita semua tahu cerita dari dalam perkebunana sawit itu sendiri?. Sebuah perkebunan sawit merupakan satu usaha berbisnis yang amat sangat menjanjikan. Mengapa tidak?. Dengan lahan sawit yang umumnya berhektar-hektar, pengusaha sawit mendapat miliaran rupiah dari penjualan CPO mentahnya saja (bagi yang belum paham CPO adalah Crude Palm Oil atau disebut juga minyak kelapa sawit). Bisnis sawit ini memang sudah menggiur banyak orang untuk menggelutinya dan mangabaikan isu-isu lingkungan yang selalu membuntuti bisnis ini.
Asal tahu saja lahan yang digunakan atau dikonversikan untuk perkebunan sawit selamanya tidak akan bisa ditanami tanaman selain pohon sawit.
Sebagai orang biologi yang setiap hari dicekoki teori biodiversitas, tentu perkebunan sawit sangat bertentangan dengan konsep biodiversitas yang multikultur dan mengedepankan keanekaragaman hayati. Bahkan parahnya sekarang ini ekspansi sawit mulai mengusik hutan-hutan dan juga lahan gambut. Sampai disini, apakah sebaiknya kita masih berpihak pada komoditas serakah ini?.
Sawit watch, sebuah lembaga non pemerintah yang konsern di bidang isu-isu negative dampak dari perkebunan besar kelapa sawit dalam risetnya tahun lalu menyebutkan perkebunan sawit memunculkan konflik antara masyarakat adat dengan perkebunan besar, pada tahun 2010 sebanyak 663 kasus konflik agrarian terjadi di kawasan perkebunan sawit (Respect Magazine Edisi 09). Sebut saja kasus Mesuji yang baru-baru ini terjadi di Lampung dan Sumatera Selatan merupakan salah satu kasus pelanggaran HAM dalam praktek bisnis perkebunan sawit.
Masalah tidak selesai disitu saja kawan, hasil dari perkebunan sawit di Indonesia umumnya mengekspor CPO mentah mereka ke luar negeri. Padahal sebagai Negara terbesar pemilik perkebunan sawit dunia, Indonesia harusnya bisa meningkatkan nilai jual CPO mentah dengan meningkatkan kemandirian Negara. Salah satunya dengan mengolah CPO tersebut menjadi bahan setengah jadi ataupun barang jadi akanlebih bagus lagi. Namun yang terjadi di lapangan sebanyak 80% CPO mentah diekspor keluar. Dan ironisnya, sampai sekarang Indonesia masih mengandalkan Negara-negara pembuat margarine yang bahan bakunya dari sawit, seperti Amerika Serikat, Jerman, Belgia, Australia, Belanda, dan GILANYA Singapura (Negara yang bahkan tidak punya perkebunan sawit!).
Melihat fakta tersebut, pikiran kembali liar menuju dunia yang semrawut. Teringat akan pekebun-pekebun kecil yang jabatannya hanya sebatas buruh kebun dari perusahaan perkebunan sawit raksasa. Setiap hari bekerja dengan peluh bercucuran, bahkan kadang harga dirinya pun tidak dihargai, upah kerja yang didapat lebih rendah dari UMR yang ditentukan. Dan sampai tak tega lagi saya membayangkan lebih jauh, jika uang dari upah kerja yang mereka dapatkan kemudian mereka belikan satu bungkus margarine atau 1 liter minyak goreng di toko dengan uang yang sama. Tidakkah mereka merasa sedih jika melihat sawit yang mereka pelihara tiap harinya berubah nama menjadi milik Negara asing?.
Teringat akan kakek disana yang setiap pagi membawa cangkul, dengan rantang makanan di tangan lainnya. Begitu ‘desa’ sekali mengingat momen itu. Membayangkan kakek yang dengan sepenuh hati menanam padi di sawah lalu ketika panen raya tiba, beliau mendapati beras-beras impor masuk dengan bebasnya ke pasar-pasar dan memanjakan pembeli dengan gembar-gembor harga murah. Tidakkah kakek saya merasa sedih ketika diperlakukan seperti itu?.
Tak tega lagi saya membayangkan perjuangan kakek yang ketika berniat menanam padi untuk memasok kebutuhan pangan Negara akan nasi,sudah dipaksa membeli bibit, pupuk, pestisida IMPOR!. Saya hamper saja banjir air mata ketika membayangkan perjuangan kakek saya dan para petani, pekebun, juga nelayan kecil lainnya di Negara ini. Merekalah ujung tombak kehidupan Negara, tetapi mereka juga korban dari kebijakan yang sama sekali tidak bijak dari para penguasa.
Maka saya mencoba mengambil sikap tegas, walaupun saya tidak bisa berbuat banyak mengingat kapasitas saya sebagai mahasiswa tingkat 6. Namun, dengan mencoba untuk menyajikan pangan local di meja makan setiap harinya, menurut saya itu akan membantu membahagiakan banyak pihak termasuk kakek saya sendiri. Yang jelas saya mencoba untuk makan dengan tidak membiarkan orang lain tidur dengan perut kelaparan.
Filed under Uncategorized | Comment (0)Hello world!
Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!
Filed under Uncategorized | Comment (1)